Rabu, Oktober 28, 2020

Ben-Gurion dan Kesaksiannya: Ungkap Pencurian Tanah Arab-Palestina

Potlot.id — Arena politik dan media zionis tidak pernah sepi dari suara, dan mungkin kadang-kadang dari kemanusiaan, bahkan jika itu tetap dalam kerangka “negara Israel dan kepentingannya.” Kecuali kelompok agama kecil (Kelompok Neturei Karta) yang tidak mengakui legitimasi negara tersebut.

Kadang-kadang suara-suara ini mengungkap sekandal sebagian besar sejarah negara penjajah Israel, seperti yang dilakukan oleh mereka yang dikenal sebagai “sejarawan baru” sejak lebih dari 4 dekade lalu, ketika otoritas zionis merilis dokumen pertama penjajah Israel setelah lewat 30 tahun.

Mereka menyajikan laporan baru tentang kekejaman penjajah Israel, pembantaian, dan operasi pengusiran yang sudah dilaksanakan.

Di hadapan kita ada sebuah buku baru yang baru-baru ini diterbitkan di entitas zionis, berjudul “Pencurian Properti Arab dalam Perang Kemerdekaan”. “Perang Kemerdekaan” adalah istilah yang digunakan zionis untuk menyebut pendudukan terhadap tanah Palestina pada tahun 48, yang oleh orang Palestina disebut “Nakba” prahara.

Kami belum membaca buku tersebut. Akan tapi kami membaca reviewnya di koran Israel Haaretz, yang ditulis oleh jurnalis Ofer Adiret.

Dia mengatakan, “Pada 24 Juli 1948, dua bulan setelah berdirinya negara Israel, Perdana Menteri Israel (Ben Gurion) mengatakan hal-hal yang sangat kasar tentang masyarakat Israel. Di antara yang dia katakan, ternyata sebagian besar orang Yahudi adalah pencuri. Saya mengatakan ini dengan sengaja dan sederhana. Karena ini adalah kebenaran, sayangnya.”

Dia meneruskan pernyataannya, “Pernyataan ini tertulis secara tekstual dalam risalah rapat Mapai Center, yang disimpan di Museum Partai Buruh.”

Mengutip Ben-Gurion,

“Putra-putra lembah telah mencuri! Para pionir ada di antara para elit, dan para bapak anak-anak Palmachs! Semua orang berpartisipasi dalam pencurian ini. Puji bagi Tuhan; juga putra-putra Nahalal! Ini adalah pukulan telak. Ini menakutkan, karena ini mengungkap beberapa kelemahan mendasar. Pencurian dan perampokan. Dari mana asalnya ini?”

Buku tersebut mendokumentasikan apa yang ditemukannya tentang “pencurian properti Arab oleh orang-orang Yahudi dalam Perang Kemerdekaan dari Tiberias di utara hingga Bersyeba di selatan. Dari Jaffa ke al-Quds, melewati masjid, gereja, dan desa yang tersebar di antara permukiman-permukiman Yahudi.”

Hasilnya mengejutkan. Menurut penulis, karena pencurian itu melibatkan “sebagian besar masyarakat Israel, warga negara dan kombatan tanpa kecuali.”

Pencurian tersebut meliputi “isi puluhan ribu rumah dan toko, peralatan mekanik, pabrik, hasil pertanian, domba dan lain-lain. Termasuk juga; buku, pakaian, perhiasan, meja, peralatan listrik, mesin dan mobil.”

Adapun “pembahasan tentang nasib tanah dan bangunan yang ditinggalkan oleh 700 ribu pengungsi Arab (Palestina) yang melarikan diri atau diusir dalam perang, diserahkan kepada para pencari lain,” karena fokusnya “pada harta bergerak saja, yaitu harta benda yang bisa dimasukkan ke dalam tas dan diangkut ke dalam mobil.”

Dalam resensi panjang pada buku tersebut, ada cerita-cerita sangat menarik yang sulit untuk disampaikan semua; tentang kegilaan penjarahan yang menimpa Zionis. Selanjutnya Anda bisa membayangkan cerita yang disebutkan oleh buku yang sama.

Setelah pendudukan Haifa, dalam memoarnya Ben Gurion menulis tentang perampokan total dan menyeluruh di kampung Wadi Nisnas (di kota), yang dilakukan oleh anggota organisasi “Etzel” dan “Haganah”.

Bahkan surat kabar pada saat itu menulis tentang penjarahan ini. Dalam surat kabar Haaretz terbitan akhir tahun 1948, memuat sebuah artikel yang ditulis oleh Aryeh Nesher, di mana dia berkata, “Ternyata saudara-saudara kita anak-anak Israel juga mempelajari tindakan (pencurian) ini, secara komprehensif, seperti yang dilakukan oleh orang Yahudi.”

Dan di surat kabar Ma’ariv, wartawan lain yang berpartisipasi dalam tur ke Al-Quds atau Yerusalem pada bulan Juli 1948 menulis, “Ayo, para hakim dan polisi, ke Yerusalem, karena kita telah menjadi seperti semua orang kafir. Di sepanjang jalan tidak ada rumah, toko atau bengkel kecuali telah dikeluarkan semua isinya.”

Adapun yang paling menarik bagi penulis buku terebut, bahwa para pencuri tersebut tidak semuanya datang dari jauh. Sebaliknya, ada di antara mereka adalah orang-orang yang tinggal di Palestina, berdampingan dengan orang-orang Palestina. Akan tetapi hal itu tidak mencegah mereka dari melakukan pencurian dari “tetangganya kemarin”.

Berbicara tentang pencurian mungkin terkesan marjinal, di samping apa yang diungkap oleh para “sejarawan baru” sebelumnya tentang pembantaian yang dilakukan oleh geng-geng Zionis, yang tidak memiliki tujuan selain untuk mengusir rakyat Palestina. Karena rencananya adalah pengusiran total.

Akan tetapi hal itu tidak terjadi karena berbagai alasan terkait dengan situasi internasional saat itu. Untuk diketahui bahwa mimpi membersihkan orang Palestina non-Yahudi masih mengganggu pikiran Zionis. Bahkan jika saat ini sedang menempuh jalur pengusiran secara diam-diam, mungkin memanfaatkan keadaan bisa jadi terulang kembali kemudian.

Kesaksian baru tetap memiliki nilai penting dalam konteks mengungkap moralitas para penjajah, pada saat yang sama mengungkap banyak bid’ah yang dipropagandakan oleh beberapa Zionis Arab baru, tentang orang-orang Palestina yang dituduh menjual tanah dan properti mereka, dan mengungkap kejahatan yang dilakukan terhadap mereka.

Ini adalah kejahatan yang tidak mengenal kedaluarsa, terutama karena di sana masih ada bangsa yang bertekad untuk mengambil kembali hak-hak mereka, dan di belakang mereka adalah umat yang tidak mengakui satu inci pun tanah Palestina menjadi milik penjajah, yang tidak menerima baik melalui “inisiatif Arab” atau keputusan internasional sebelumnya.

Dan itu akan tetap demikian, terlepas adanya orang-orang yang melakukan normalisasi hubungan dengan penjajah.

Sumber: Pusat Info Palestina (Palinfo)

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan

- Advertisment -

POPULER

Salat tapi Pacaran?

Oleh: Ahmad Syarief Potlot.id -- Pacaran, sebuah istilah bagi sepasang anak manusia yang saling mengikat hubungan satu sama lain dengan komitmen sehidup semati. Namun sejak kapan...

Nabi Yunus, Lockdown, dan Doanya

Oleh: Prof. Madya Dr. Abdurrahman Haqqi* Potlot.id -- Jika Anda ditanya, “Siapakah dua orang Rasul yang dinasabkan kepada ibunya?” Nabi Isa AS yang dinasabkan kepada...

Tipe-Tipe Mahasiswa Menyebalkan dari Kaca Mata Dosen

Oleh: Ilham Syahrul Jiwandono Dari banyak tulisan keluhan mahasiswa soal kuliah, kebanyakan meyakini bahwa nilai jelek itu artinya ada andil kesalahan dosen. Hmm. Hape saya berdering, tampak ada pesan wasap masuk dari...

Meneladani Mujahidah Tangguh Zaman Rasulullah

Potlot.id -- Bersungguh-sungguh dalam membela Agama Islam di garda depan bukan monopoli kaum lelaki saja. Di zaman Rasulullah, perempuan-perempuan pun turut mempertaruhkan nyawa di...

Doa Meminta Kemudahan dalam Menjalani Kehidupan

Doa hari ini أللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ مَانَحْنُ فِيْهِ وَمَا نَطْلُبُـهُ وَنَرْتَجِيْـهِ مِنْ رَحْمَتِكَ فِي أَمْرِنَا كُلِّهِ فَيَسِّرْ لَنَا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ سَفَرِنَا وَمَا نَطْلُبُهُ...

Tips Menggoreng Ikan Teri Agar Tidak Keras, Pasti Renyah!

Oleh: Lina Lusiana Potlot.id -- Siapa yang tidak mengenal ikan teri? Tentunya kita semua sudah pada tahu banget dong, ya, Gansist, apa itu ikan teri. Ikan...

Bagaimana Umat Islam Tahu Alqur’an Tidak Berubah?

Oleh: Firas Alkhateeb Potlot.id -- Kebangkitan Eropa dari abad kegelapan menuju masa pencerahan intelektual sejak tahun 1600-an hingga 1800-an adalah salah satu gerakan paling kuat...