Rabu, Oktober 28, 2020

Napak Tilas Ustaz Adjie Muslim bin Mas’ud

Potlot.id — Saat masih muda, Ust. Adjie adalah penganut Islam abangan yang banyak tercampur dengan khurafat atau tahayul. Beliau banyak sekali hafal mantra-mantra tahayul itu. Saking kentalnya, sampai sekarang beliau masih hafal banyak mantra-mantra berbahasa sunda itu.

Beliau lahir pada 1945 di Garut. Pada usia belasan di penghujung dekade 1960-an beliau adalah aktivis NU di Garut. Ust. Adjie sempat menjadi komandan regu Banser (Barisan Ansor Serbaguna), sebuah oranisasi sayap semi militer dari GP Ansor milik NU.

Di masa itu Ust. Adjie ikut memburu eks anggota PKI. Dia masih ingat, dahulu menenteng-nenteng pedang panjang ke mana-mana dengan seragam Banser-nya. Dia ceritakan; perawakannya yang kecil dan tidak tinggi sangat kontras dengan pedangnya yang panjang.

Dari Garut, Ust. Adjie sering ke Bandung. Di sana beliau sering menyimak ceramah Ust. Endang Abdurrahman, ketua Persis. Ust. Adjie sangat terpukau dengan ceramah Ust. Endang. Dari ceramah itu dan dialog-dialognya dengan banyak toloh Persis, Ust. Adjie bergabung dengan Persis.

Pada tahun 1970 Ust. Adjie menikah dengan Ibu Iis di Subang. Lalu pada 1971 beliau pindah ke Lampung, di daerah Umbul Bandung. Di sana Ust. Adjie menjadi tokoh Persis. Kegiatannya selain dakwah Persis, beliau berdagang.

Pada sekitar tahun 1972, beliau diajak oleh temannya bernama Pak Djamidin (kelak namanya berubah menjadi Muhammad) untuk mengikuti pengajian seorang ustaz di Pringsewu. Namanya Ustaz Saefuddin.

Menurut Pak Djamidin, Ust. Saefuddin ini agak ‘berbeda’ dengan kebanyakan ustaz lainnya. Yang disampaikan bukan hanya soal sehari-hari seperti salat, akhlak, dan ibadah-ibadah harian lainnya. Kemudian Ust. Adjie setuju.

Sebagai persiapan, Ust. Adjie mengkaji lagi kitabnya berjudul Madzahibul Arba’ah. Kitab itu dibaca berulang-ulang meskipun sudah sering dikaji sebelumnya. Ini beliau lakukan sebagai tokoh Persis untuk menghadapi kemungkinan dialog dengan Ust. Saefuddin itu.

Saat tiba waktunya, beliau sampai di Pringombo-Pringsewu. Di sana Ust. Adjie bertemu Ust. Sefuddin sedang musyawarah bersama sahabat-sahabatnya, antara lain Ust. Damiri. Musyawarah itu sendiri belakangan Ust. Adjie ketahui dalam rangka mempersiapkan Ta’aruf Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Lampung di Wisma Ria Tanjung Karang yang akan dilaksanakan tahun berikutnya, 1973.

Saat pertama kali menatap Ust. Saefuddin, Ust. Adjie langsung terpikat. Tatapan matanya yang tajam tapi teduh dan janggut panjangnya yang selalu bergerak-gerak karena zikir membuat Ust. Adjie langsung kagum pada Ust. Saefuddin.

Dalam dialog, Ust. Saefuddin menyampaikan tentang kembali pada Al Qur’an dan Sunnah, Al Jam’ah, Imamah, baiat beserta dalil-dalilnya. Syariat yang disampaikan dan karisma Ust. Saefuddin membuat Ust. Adjie kehabisan kata. Kitab Madzahibul Arba’ah yang dibaca berulang itu seakan terlupa. Karenanya saat itu juga, Ust. Adjie dengan mantap berbaiat.

Saat pulang dari Pringsewu, Ust. Adjie merasa seolah-olah dia berjalan tidak menapak tanah. Pikiran antara gembira karena sudah menemukan kebenaran dan reaksi koleganya di Persis, berseliweran di kepalanya. Memang kemudian setelah baiat itu, Ust. Adjie tidak langsung aktif di Jama’ah. Ada proses cukup lama yang harus dia jalani.

Ust. Adjie kemudian menjadi salah satu bithonah utama Ust. Saefuddin selaku Waliyul Imaam lampung. Selain ditunjuk sebagai amir bangunan saat awal-awal pembukaan Muhajirun, Ust. Adjie juga sering ditugaskan untuk menyelesaikan berbagai masalah berkaitan dengan aparat di wilayah lampung.

Di awal-awal tahun Ust. Adjie aktif di Jama’ah, banyak tantangan yang dihadapi. Apalagi Ust. Saefuddin sangat keras dalam membina dan mengamanahi para bitonah. Semuanya benar-benar menguji kesabaran dan keikhlasannya. Misalnya, Ust. Adjie sering dipanggil musyawarah tengah malam atau bahkan dini hari karena ada hal urgent yang harus dikerjakan esok harinya.

Pernah juga Ust. Adjie ditugasi untuk keliling lampung. Ust. Adjie harus ke Kota Bumi, Panaragan, Lampung Timur, dan beberapa tempat lainnya. Kendaraan yang tersedia adalah sepeda motor.

Menurut Ust. Adjie waktu itu jarak yang ditempuh bisa sampai 500an Km. Dia harus cepat karena harus sampai kembali ke Muhajirun tidak boleh terlambat.

Diceritakan, untuk mengejar waktu Ust. Adjie naik motor dengan kecepatan tinggi sampai-sampai bercucuran air mata karena angin yang menerpa wajahnya. Setibanya di Muhajirun, belum juga dia duduk apalagi minum, langsung dimarahi Ust. Saefuddin karena terlambat.

Pernah juga Ust. Adjie diminta untuk mengawal Ust. Saefuddin ke Jakarta karena membawa uang cukup banyak; Rp 500 ribu. Uang itu rencananya untuk sebagian pembayaran tanah Shuffah Cileungsi. Ust. Adjie hanya membawa pakaian 2 stel.

Beberapa saat sesampainya di rumah Imaam Muhyiddin Hamidy di Pisangan Lama, Ust. Adjie diajak ke Cileungsi bersama beberapa ikhwan lainnya. Rombongan menjelang sore pulang. Kecuali Ust. Adjie. Imaam perintahkan Ust. Adjie untuk tinggal dan membantu pembangunan masjid dan bangunan lainnya di Shuffah Cileungsi.

Saat itu Cileungsi masih belantara. Gelap dan sepi. Jauh dari mana-mana. Itu terjadi sekitar tahun 1980. Itulah awal mula Ust. Adjie menetap di Cileungsi. Padahal, waktu itu dia sedang betah-betahnya tinggal di Muhajirun.

Secara nafsu, amanat itu benar-benar dirasakan berat. Di Cileungsi hari-hari dijalani dan dirasakan begitu lama karena menanti amanat dicabut dan diizinkan pulang ke Muhajirun. Tetapi bukannya izin pulang yang dia terima, malah istri pertamanya yang dikirim ke Cilengsi. Lalu barang-barang perabotan rumah juga dikirim. Istri keduanya juga menyusul ‘dikirim’ ke Cileungsi. Demikianlah, Ust. Adjie menjadi pemukim pertama di Shuffah Cileungsi.

Melalui beliaulah Shuffah Cileungsi dapat diterima dengan baik oleh masayarakat dan aparat setempat. Pendekatan dan komunikasinya yang baik menjadikan beliau ditokohkan sebagai sesepuh pesantren di Kecamatan Cileungsi.

Keikhlasan dan kesabaran adalah pelajaran besar yang diambil oleh Ust. Adjie Muslim sebagai modal istiqomah dalam Jama’ah. Berbagai amanat dia selesaikan. Antara lain menjadi amir markaz, menjadi Naibul Imaam di Pringsewu, dan menjadi Naibul Imaam Rancakole Bandung Selatan.

-Catatan Tim Napak Tilas Syubban Jamaah Muslimin (Hizbullah)

Tinggalkan Balasan

- Advertisment -

POPULER

Salat tapi Pacaran?

Oleh: Ahmad Syarief Potlot.id -- Pacaran, sebuah istilah bagi sepasang anak manusia yang saling mengikat hubungan satu sama lain dengan komitmen sehidup semati. Namun sejak kapan...

Nabi Yunus, Lockdown, dan Doanya

Oleh: Prof. Madya Dr. Abdurrahman Haqqi* Potlot.id -- Jika Anda ditanya, “Siapakah dua orang Rasul yang dinasabkan kepada ibunya?” Nabi Isa AS yang dinasabkan kepada...

Tipe-Tipe Mahasiswa Menyebalkan dari Kaca Mata Dosen

Oleh: Ilham Syahrul Jiwandono Dari banyak tulisan keluhan mahasiswa soal kuliah, kebanyakan meyakini bahwa nilai jelek itu artinya ada andil kesalahan dosen. Hmm. Hape saya berdering, tampak ada pesan wasap masuk dari...

Meneladani Mujahidah Tangguh Zaman Rasulullah

Potlot.id -- Bersungguh-sungguh dalam membela Agama Islam di garda depan bukan monopoli kaum lelaki saja. Di zaman Rasulullah, perempuan-perempuan pun turut mempertaruhkan nyawa di...

Doa Meminta Kemudahan dalam Menjalani Kehidupan

Doa hari ini أللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ مَانَحْنُ فِيْهِ وَمَا نَطْلُبُـهُ وَنَرْتَجِيْـهِ مِنْ رَحْمَتِكَ فِي أَمْرِنَا كُلِّهِ فَيَسِّرْ لَنَا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ سَفَرِنَا وَمَا نَطْلُبُهُ...

Tips Menggoreng Ikan Teri Agar Tidak Keras, Pasti Renyah!

Oleh: Lina Lusiana Potlot.id -- Siapa yang tidak mengenal ikan teri? Tentunya kita semua sudah pada tahu banget dong, ya, Gansist, apa itu ikan teri. Ikan...

Persiapan Ramadan di Makkah dan Madinah

Potlot.id -- Ramadan sudah sangat dekat, Mahkamah Ulya Arab Saudi menyerukan untuk mencari penampakan hilal pada kamis sore, 30 Sya’ban 1441 H. Masjidil Haram dan...