Rabu, Oktober 28, 2020

Pandangan Pertama (bag. 1)

Oleh: Rendi Setiawan

Pagi-pagi sekali, Fathia datang menghampiri sebuah rumah kost berukuran sedang di Cileungsi. Dia baru saja tiba dari Lampung untuk melaksanakan amanahnya di BMT Amanah Syariah.

“Assalamualaikum,” katanya diiringi beberapa kali ketukan pintu. Fathia berharap orang yang dia harapkan keberadaannya akan membuka pintu.

Fathia masih menunggu dalam beberapa menit.

“Waalaikumussalam,” balas suara perempuan dari dalam ruangan. Tak berselang lama, pintu kost itu terbuka dan muncul sesosok perempuan muda masih mengenakan mukena.

“Alhamdulillah,” kata Fathia. “Kupikir tidak ada orang. Bisa-bisa aku jamuran menunggumu di depan kost ini.

“Tidak sulit menemukan kost-ku, kan?” tanya perempuan yang bernama Alimah itu. Dia adalah salah satu teman karib Fathia selama kuliah di Samarinda.

“Hehe.. enggak juga,” jawab Fathia singkat. Dia langsung nyelonong masuk ke dalam kost tanpa menunggu perintah Alimah.

“Kamu kayaknya capek banget, ya?” tanya Alimah. Padangannya mengikuti langkah gontai Fathia yang masuk ke dalam tadi.

Tak ada jawaban dari Fathia. Dia sudah terlelap di kasur lantai yang ada di kost itu.

“Baiklah. Hari ini kamu istirahat sepuasmu. Nanti malam kita pergi belanja,” bisik Alimah sembari menutupi tubuh lunglai Fathia dengan selimut.

***

Fathia datang ke Cileungsi untuk menunaikan amanahnya di BMT Amanah Syariah. Dia adalah seorang sarjana bahasa Inggris dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Kalimantan Timur.

Sebenarnya, Fathia lebih senang tinggal di Lampung ketimbang harus pergi ke Cileungsi. Meski demikian, dia tetap teguh menerima amanah itu. Baginya, sebuah amanah lebih berharga ketimbang harus mengedepankan egonya.

Perempuan yang lahir 25 tahun silam itu berharap bisa menyelesaikan amanahnya dengan baik. Bila perlu, dia ingin sekali membawa pulang seorang ikhwan soleh untuk menjadi pasangan hidupnya.

Fathia percaya bahwa jodoh adalah cerminan dari dirinya. Dengan apa yang dia percayai itu, Fathia selalu berusaha menjadi lebih baik dan lebih baik setiap harinya.

Pernah suatu ketika dia berkenalan dengan seorang laki-laki yang mengajaknya untuk berkhalwat. Namun, dia secara halus menolak ajakan itu dan tetap berpegang teguh pada tekadnya bahwa jodoh yang baik berasal dari cerminan diri yang baik.

Sesuai janji Alimah pagi tadi, dia mengajak Fathia berbelanja kebutuhan sehari-hari di minimarket selama dia berada di Cileungsi. Mereka berangkat mengenakan sepeda motor.

Di tempat perbelanjaan itu, mereka bercanda ria dan beberapa kali mengambil foto selfi mereka berdua. Hal itu dilakukan untuk menyambut kedatangan Fathia dan menyebarkannya melalui WhatsApp story atau InstaStory.

Tentu saja hal itu mengundang beragam komentar dari sejumlah teman-temannya, baik yang dikenal dekat maupun yang tidak terlalu dikenal sekalipun. Beberapa pertanyaan yang muncul sama sekali tak ia balas kecuali hanya beberapa saja.

***

Hari itu hari Sabtu, 29 Agustus 2020. Fathia menemani Alimah yang mendapat amanah di STAI Al-Fatah. Hari itu menjadi hari di mana STAI Al-Fatah menggelar Sidang Skripsi.

Fathia yang baru saja tiba sehari sebelumnya tampak sumringah dan tidak menunjukkan tanda-tanda kecapekan. Dia tetap semangat menemani Alimah mondar-mandir di kampus jihad itu.

Di sisi lain, satu per satu mahasiswa yang akan segera dieksekusi terus berdatangan memenuhi ruang kelas. Mereka menunggu giliran untuk mendapat pertanyaan-pertanyaan dari penguji.

Dalam kelompok mahasiswa itu, tampak seorang mahasiswa yang tidak mengenakan almamater sendiri. Dia adalah Agata. Sementara teman-teman yang lainnya rapi dengan jaket kebanggaan kampus.

Fathia dan Alimah berjalan di depan Agata yang sedang duduk santai itu.

“Hei,” sapa Fathia, namun dia tak berkata apa-apa setelah itu. Fathia meneruskan langkah kakinya menuju halaman depan untuk sekedar mampir ke toko membeli sesuatu yang ingin dibelinya.

Agata yang sedang memerhatikan ponselnya cukup terkejut saat mendengar sapaan itu. Dia menoleh perempuan itu dan matanya tak lepas dari muslimah yang baru saja menyapanya.

“MasyaAllah.. cantik sekali,” Agata membatin. Dia cukup kaget wanita secantik Fathia menyapanya walaupun hanya sekilas.

Itu menjadi pertama kalinya bagi Agata melihat perempuan secantik Fathia. Meski itu adalah pandangan pertamanya dan belum sempat berbicara apapun, Agata yakin bahwa Fathia adalah perempuan yang baik dan sederhana.(*)

Tinggalkan Balasan

- Advertisment -

POPULER

Salat tapi Pacaran?

Oleh: Ahmad Syarief Potlot.id -- Pacaran, sebuah istilah bagi sepasang anak manusia yang saling mengikat hubungan satu sama lain dengan komitmen sehidup semati. Namun sejak kapan...

Nabi Yunus, Lockdown, dan Doanya

Oleh: Prof. Madya Dr. Abdurrahman Haqqi* Potlot.id -- Jika Anda ditanya, “Siapakah dua orang Rasul yang dinasabkan kepada ibunya?” Nabi Isa AS yang dinasabkan kepada...

Tipe-Tipe Mahasiswa Menyebalkan dari Kaca Mata Dosen

Oleh: Ilham Syahrul Jiwandono Dari banyak tulisan keluhan mahasiswa soal kuliah, kebanyakan meyakini bahwa nilai jelek itu artinya ada andil kesalahan dosen. Hmm. Hape saya berdering, tampak ada pesan wasap masuk dari...

Meneladani Mujahidah Tangguh Zaman Rasulullah

Potlot.id -- Bersungguh-sungguh dalam membela Agama Islam di garda depan bukan monopoli kaum lelaki saja. Di zaman Rasulullah, perempuan-perempuan pun turut mempertaruhkan nyawa di...

Doa Meminta Kemudahan dalam Menjalani Kehidupan

Doa hari ini أللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ مَانَحْنُ فِيْهِ وَمَا نَطْلُبُـهُ وَنَرْتَجِيْـهِ مِنْ رَحْمَتِكَ فِي أَمْرِنَا كُلِّهِ فَيَسِّرْ لَنَا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ سَفَرِنَا وَمَا نَطْلُبُهُ...

Tips Menggoreng Ikan Teri Agar Tidak Keras, Pasti Renyah!

Oleh: Lina Lusiana Potlot.id -- Siapa yang tidak mengenal ikan teri? Tentunya kita semua sudah pada tahu banget dong, ya, Gansist, apa itu ikan teri. Ikan...

Bagaimana Umat Islam Tahu Alqur’an Tidak Berubah?

Oleh: Firas Alkhateeb Potlot.id -- Kebangkitan Eropa dari abad kegelapan menuju masa pencerahan intelektual sejak tahun 1600-an hingga 1800-an adalah salah satu gerakan paling kuat...