Trakko vs Ratu Lix (28)

Sebelumnya: Kehebatan Shehree (27)

 

Untuk kedua kalinya, Afrizal berhadapan dengan Harzai yang bernama Trakko, sosok jelmaan si bos narkoba, Garda Prabowo. Trakkolah yang melempar Afrizal dalam sosok Dho Gho dengan sebuah sepeda motor. Motor itu dilempar seperti sepotong kayu, begitu ringan.

Dho Gho cepat bangkit dari posisinya dan berlari. Begitu ringannya Dho Gho menyambar dan mengangkat sebuah mobil sedan yang diparkir. Terlihat seperti mengangkat mobil mainan. Mobil itu langsung dilempar kepada Trakko yang berdiri di seberang jalan.

Brakr!

Dengan lompatan kecil, Trakko menyambut mobil itu dengan tendangan kaki yang bersinar merah. Mobil pun patah dua. Saat Trakko memandang ke arah Dho Gho, ternyata pemuda itu sudah berlari kencang dengan membawa tubuh Alice.

Bessr!

Trakko menonjok aspal jalanan. Sinar merah menjalar cepat mengejar Dho Gho. Laju sinar merah itu lebih cepat dari lari Dho Gho.

Blaar!

Bertepatan ketika Dho Gho melompati sebuah mobil yang melaju kencang, sinar merah Energi Tempur Trakko menghantam bawah mobil. Mobil itu meledak hebat sekaligus menewaskan pengemudinya.

“Aaa!” jerit warga sekitar ketakutan melihat kengerian tersebut.

Sementara Dho Gho terpental di udara lalu jatuh di aspal. Ia memeluk erat tubuh Alice agar tidak menghantam aspal sedikit pun.

Dho Gho buru-buru bangun kembali dan berlari lagi dengan kecepatan tinggi.

“Heaat!” pekik keras Trakko yang telah melompat tinggi di udara. Tangan kanannya telah memegang pedang besar dan panjang yang siap menebas tubuh Dho Gho.

Dho Gho tidak bisa mengelak. Punggungnya terkena tebasan pedang. Dho Gho tersungkur di aspal dengan zirah bagian belakang robek lebar oleh pedang. Namun, tidak ada darah yang tertetes dari luka itu.

Kembali Dho Gho bangun, ia tidak mempedulikan Trakko yang kembali siap menyerang lagi. Dho Gho terus berlari sekencang-kencang kemampuannya.

“Alice! Alice!” sebut Dho Gho panik, sebab dilihatnya Alice sudah terpejam dan tidak bergerak-gerak lagi.

Trakko terpaksa berlari mengejar Dho Gho dengan menyeret pedang besarnya yang menciptakan percikan api dan garis yang dalam di aspal.

Dho Gho berbelok di perempatan lampu merah. Namun, Dho Gho menemui tumpukan kemacetan di depan yang mengarah ke rumah sakit. Bangunan rumah sakit sudah terlihat.

Sess!

“Akh!” pekik Dho Gho ketika sinar merah berbentuk kacamata melesat menghantam punggungnya.

Energi Tempur dari Trakko itu terasa begitu dahsyat. Tubuh Dho Gho yang besar terpental hebat menghantam mobil paling belakang di kemacetan. Mobil itu sampai terpental ke atas dan jatuh menimpa mobil yang lain di tengah kemacetan.

Apa yang terjadi sungguh mengejutkan masyarakat umum yang sedang tegang dan serius pada apa yang terjadi di depan rumah sakit. Kepanikan luas pun terjadi. Masyarakat umum yang sudah menjauhi area depan rumah sakit, kembali berlarian lebih menjauhi dua orang aneh super lainnya yang baru muncul. Orang-orang yang tadi memilih bertahan di dalam mobil jadi berkeluaran meninggalkan kendaraannya.

Ketika Trakko hendak melepaskan kembali Energi Tempur yang bernama Kacamata Iblis, tiba-tiba satu benda hijau melesat laksana peluru.

Babak!

Trakko yang fokus kepada Dho Gho, terkejut dengan serangan dari pihak lain itu. Benda hijau yang adalah dua sinar berbentuk telapak tangan itu menghantam dada Trakko. Sosok besar berjubah merah itu terjengkang keras di tengah-tengah perempatan lampu merah.

“Alice! Alice!” teriak Dho Gho sambil mengguncang-guncang tubuh Alice yang sebisa mungkin ia lindungi dari hantaman.

Tanpa mempedulikan Trakko yang kini berhadapan dengan Ratu Suku Lix, Dho Gho kembali berlari menuju rumah sakit yang tinggal beberapa ratus meter.

Kini di perempatan lampu merah, berhadapan Trakko yang berdiri dengan pedang besar dan Haxi yang berdiri dengan penuh keanggunan dan kecantikannya.

“Apa yang kamu perbuat?!” teriak Trakko sambil menuding Haxi dengan ujung pedang besarnya. “Kamu melanggar aturan Harzai!”

“Sejak kapan ada undang-undang Harzai ketiga tidak boleh turut campur dalam pertarungan dua Harzai? Lagi pula kamu mau membunuh adik kekasihku!” seru Haxi.

“Oh ya? Hahaha …!” Trakko menertawakan Haxi. “Harzai bermain cinta dengan Harzai lain. Harzai macam apa kamu ini? Saya tidak peduli, karena dia lolos, maka kamulah yang menjadi gantinya!”

“Kamu harus tahu bahwa kamu berhadapan dengan seorang Ratu Suku!” kata Haxi.

“Hah! Berarti ini hari keberuntunganku bisa membunuh seorang Ratu Suku. Hiaat!” teriak Trakko lalu berlari maju menyerang dengan menyabetkan pedang ke sana dan ke sini.

Meski pedang Trakko besar dan berat, tapi dengan ringannya ia memainkannya, seperti memainkan sebatang kayu kecil nan ringan. Namun, Haxi terlalu gesit untuk disasar oleh tajamnya pedang besar itu.

Mulusnya aspal jalan raya dibuat rusak berat tidak karuan oleh bacokan-bacokan pedang Trakko yang tidak mengenai sasaran.

“Pedangmu memang sangat berbahaya, tapi terlalu lambat bagiku!” kata Haxi yang bisa mengelak mudah di dekat bilah pedang tanpa takut tersentuh sedikit pun.

“Hah!” kejut Trakko saat tiba-tiba sepasang kakinya telah disegel oleh lapisan es tebal.

Sets! Bababak …!

Belum sempat Trakko mencoba melepaskan sepasang kakinya dari belenggu es, dua kiblatan sinar hijau dari Energi Tempur Menepis Gundah Lix menghantam tubuh Trakko di tempat. Menyusul pula lima sinar hijau berbentuk telapak tangan dari Energi Tempur Tapak Roh Lix menghantam dada Trakko sekaligus, membuat orang besar itu terpental jauh dan keras di aspal.

Trakko cepat bangkit dengan wajah meringis.

“Jangan bermain-main denganku jika kamu tidak ingin mati cepat. Keluarkan puncak kemampuan terhebatmu!” seru Haxi.

“Kamu akan menyesal!” desis Trakko seraya menatap tajam dari balik kacamatanya yang terkesan melorot.

Trakko lalu mengeluarkan tangan kirinya yang selama ini tersembunyi di balik jubah. Tangan kiri itu mengambil kendi besi di pinggang kanannya.

Bdluarr! Jrezz!

Kendi besi itu dilempar ke depan Haxi. Ledakan hebat terjadi. Refleks Haxi melesat mundur. Yang mengejutkan Haxi adalah melesatnya 20 jarum sinar merah dari dalam sumber ledakan. Semua jarum sinar itu menyerang Haxi.

Dalam posisi di udara seperti itu, Haxi tidak bisa mengelak selain berusaha meminimalkan serangan berombongan itu.

Cukup menggerakkan jari-jarinya,  Haxi mengerahkan Energi Tempur Segel Es. Jarum-jarum sinar merah yang melesat jadi melambat lalu berguguran di tengah jalan karena berubah membeku di udara.

Meski demikian, tetap saja sejumlah jarum sinar ada yang lolos. Empat jarum sinar berhasil lolos menusuk masuk ke tubuh Haxi. Tubuh mungil itu langsung terlempar deras.

Brakrr!

Dua mobil langsung bonyok oleh hantaman brutal tubuh Haxi.

Haxi harus terkejut terhadap dirinya, sebab daya tahan tubuhnya menurun drastis akibat serangan itu. Ia berdiri agak sempoyongan.

Sess!

Sinar merah berbentuk kacamata melesat menyerang Haxi.

West! Bdluar!

Haxi langsung saja melesat terbang meninggalkan ledakan hebat dua mobil di belakangnya.

Sesr!

Dalam terbang rendahnya melintasi posisi Trakko, Haxi melesatkan Energi Tempur Matahari Tapak Ganda yang berupa sinar hijau menyilaukan. Trakko cepat melompat sambil melesatkan sinar merah dari kacamatanya membidik lintasan tubuh Haxi.

Blarr! Bluarr!

Saling serang itu tidak ada yang mengenai sasaran. Sinar hijau Matahari Tapak Ganda menghancurkan tiang lampu merah dan Energi Tempur Kacamata Iblis menghancurkan sebuah toko pinggir jalan.

Haxi terus terbang dengan kecepatan tinggi seperti jet tempur terbang di atas barisan kemacetan lalu berbelok hilang di balik susunan bangunan.

Sementara Trakko sejenak diam memperhatikan arah terbang Haxi.

Haxi kemudian muncul dari balik gedung perkantoran jauh di depan Trakko. Haxi melesat lurus laksana roket menuju ke posisi berdiri Trakko. Melihat kedatangan itu, Trakko tersenyum kecil. Ia berdiri gagah dengan pedang siap menebas.

“Mampuslah, kau!” teriak Trakko saat tubuh Haxi kian mendekat.

Sess!

Dalam posisi siap menebaskan pedangnya, Trakko melesatkan Energi Tempur Kacamata Iblis menyongsong Haxi di rel lesatannya. Sinar merah berbentuk kacamata itu melesat menyongsong tubuh Haxi. Namun, satu gerakan bergeser yang sangat samar oleh tubuh Haxi, membuat sinar merah itu lewat sejengkal jauhnya dari tubuh si gadis.

Kegagalan itu tidak membuat Trakko hilang harapan, sebab pedang besarnya telah berkelebat hendak menebas dua tubuh Haxi.

“Hah!” kejut Trakko, karena gerakannya melambat seiring seluruh tubuhnya diselimuti lapisan es tebal.

Prakr!

Cepat sekali tubuh Haxi yang bersama sinar hijau terang di tangan menghantam tubuh beku Trakko. Tubuh itu hancur pecah laksana bongkahan es yang dihantam bola besi besar.

Selanjutnya, Haxi terbang berputar balik lalu mendarat seperti burung ke dekat pecahan tubuh Trakko yang telah berubah ke wujud Garda Prabowo. Haxi memungut sebuah permata merah lalu dengan begitu saja memakannya.

West!

Selanjutnya Haxi melesat terbang pergi ke arah rumah sakit dan hilang masuk ke dalam gedung.

Selesai sudah pertarungan dua Harzai yang bagi masyarakat umum itu adalah tidak mungkin. Namun, itu bukan mimpi. Faktanya, kerusakan terjadi di mana-mana yang menyisakan satu mayat manusia yang hancur terpotong-potong tidak beraturan. (Rudi Hendrik)

 

Berlanjut: Rukun Harzai (Tamat)

1 Comment

Tinggalkan Balasan